Logo
images

Konferensi pers pengungkapan kasus peredaran minuman keras (miras) oplosan di area Kargo Bandara Soekarno-Hatta

Pengoplos Dan Penjual Miras Di Area Bandara Disikat Polisi

FokusTangerang.com - Peredaran minuman keras (miras) oplosan di area Kargo Bandara Soekarno-Hatta, berhasil dibongkar Polresta Bandara Soekarno-Hatta. Dalam operasi itu polisi membekuk empat orang dalang peredaran miras serta puluhan botol miras oplosan bermerek.

Polisi berhasil menangkap AR, HS, RA, dan S di tempat berbeda yakni di pom bensin Bandara Soekarno-Hatta serta kawasan Jakarta Barat.

Menurut Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus dalam jumpa pers di Mapolresta Bandara Soetta Kamis (30/1/2020), Keempat tersangka tersebut disangkakan Pasal 137 dan atau Pasal 138 ayat (1) Undang-undang RI Nomor 18 Tahun 2012 tentang pangan. Mereka juga diancam penjara paling lama lima tahun atau denda paling banyak Rp 4 miliar.

Yusri juga merinci keempat orang tersangka ini mempunyai tugas berbeda dalam melakukan aksinya, tersangka AS berperan sebagai marketing yang menjual minuman keras oplosan melalui media sosial.

"HS ini dia sebagai pemodal, dia memodali semuanya sekaligus menawarkan produk-produk miras oplosan kepada pelanggan," ujarnya. Sementara, RA bertugas sebagai pencari botol miras kosong yang memiliki merek kelas dunia dan memiliki harga di atas Rp 1 juta.

Masih menurut Yusri, RA membeli botol kosong dari berbagai tempat hiburan malam dalam berbagai harga mulai dari Rp30 ribu tergantung kondisi botol. Lalu, RA juga membeli kardus botol tersebut dalam berbagai kondisi dengan harga Rp 15 ribu perkardusnya.

"Total hampir Rp 50 ribu lengkap dalam kondisi kosong, yang kemudian ditawarkan dengan harga Rp150 ribu sampai Rp300 ribu kepada konsumen-konsumennya sudah terisi minuman," paparnya.

Sedangkan untuk tersangka S, memiliki peran sebagai peracik minuman yang menggunakan alkohol 90 persen dicampur Kratingdaeng dengan bahan lainnya.

"Menurut pengakuan, mereka baru beroperasi selama satu bulan. Tapi kita tidak percaya dan akan terus mendalami kasus ini lagi," ucap Yusri.

Pengungkapan tersebut awalnya saat petugas Satreskrim Polresta Bandara Soekarno-Hatta melakukan patroli di area Kargo Bandara Soekarno-Hatta. Lalu mendapati adanya segerombolan pekerja kasar yang sedang mengadakan pesta minuman keras pada 23 Januari 2020.

"Mereka meminum minuman keras yang brand mahal harganya di atas Rp 1 juta. Saat diperiksa, akhirnya ada kejanggalan yang penyidik temukan," katanya.

Saat diperiksa, ternyata minuman tersebut melebihi batas alkohol yang sudah ditetapkan dan ternyata minuman keras yang mereka minum adalah palsu alias oplosan.

Yusri menjelaskan kalau minuman oplosan tersebut awalnya merupakan campuran alkohol dengan kadar 90 persen yang dicampur dengan minuman berkarbonasi atau kratingdaeng.

"Kratingdaeng untuk penyegar, kemudian campuran dengan minuman soda yang lain. Diaduk saja sama pelaku diember kemudian tuangkan masuk ke dalam botol-botol kosong," jelas Yusri. Menurutnya, para pekerja kargo Bandara Soekarno-Hatta tersebut hanya dikenakan pidana ringan karena sebagai konsumen.

sementara itu, Kasat Reskrim Polresta Bandara Soekarno-Hatta, Kompol Alexander Yurikho mengatakan kalau ada 600 botol kosong yang diamankan.

"Kita amankan dengan berbagai jenis merek Chivas, Black Label dan lain-lain, jenis hasil miras diamankan dan dioplos siap edar ada 97 botol isi, dan botol kosong entah sampai kemana saja ada 600 botol kosong," jelas Alexander. Ir



Tinggalkan Komentar