Logo
images

Kampung Cadas, Desa Ranca Gong, Kecamatan Legok, Kabupaten Tangerang kerap dilintasi ular.

Begini Kisah Pemukiman Warga yang Kerap Dilintasi Ratusan Ular Sanca

Fokustangerang.com-Populasi ular sanca atau umum dikenal python semakin hari kian bertambah jumlahnya di Kampung Cadas, Desa Ranca Gong, Kecamatan Legok, Kabupaten Tangerang. Sebab, warga setempat telah menangkap ratusan ekor hewan melata ini. 

Ular tersebut menurut warga dapat ditemui dengan mudah pada malam hari. Mereka kerap terlihat melintasi permukiman warga, bahkan ada juga ular yang diduga nyasar dan malah masuk ke rumah warga. 

"Sudah dari dahulu sebenarnya ular-ular itu ada di sini, kalau siang atau sore mereka jarang terlihat tetapi kalau malam suka lewat dan biasanya nyari makan di kebun," jelasnya Opi (41), warga RT 02/04 Kampung Cadas kepada Fokustangerang.com, Selasa (16/12/2019). 

Opi menjelaskan, selama satu tahun terakhir sekitar 100 ekor lebih ular beragam ukuran ditangkap warga, ular-ular sanca yang ditangkap itu merupakan ular yang masuk ke rumah warga. Contoh kasus terakhir terjadi pada November 2019, salah satu warga menangkap 20 lebih anak ular sanca. 

"Biasanya yang masuk ke rumah saja, kalau yang ditemukan di jalan itu enggak ditangkap. Karena kita juga engga mau ganggu dan ular juga engga ganggu, habis ditangkap warga biasanya mengembalikan ular itu ke sarang mereka di bekas galian tanah," ungkapnya.

Wilayah RT 02/04 Kampung Cadas memang diapit oleh dua bekas galian tanah dengan diameter lebih dari 50 meter. Galian tanah itu menurut warga sudah ada sejak 10 tahun terakhir, bekas galian tanah yang dibiarkan begitu saja diduga kuat menjadi sarang ular sanca.

Situasi kampung tersebut saat disambangi Fokustangerang.com sedikit berbeda dari permukiman pada umumnya, tanaman bambu tumbuh subur diantara permukiman warga. Bekas galian tanah juga dapat dijumpai dengan mudah hanya dengan berjalan kaki, galian yang paling dekat dengan permukiman berada paling belakang area persawahan.

Galian itu kini ditumbuhi beragam jenis tanaman air, sementara galian satunya lagi berada sekitar 100 meter dari permukiman warga. Menurut Opi, warga setempat tidak ada yang berani mendekati dua galian itu, terkecuali untuk mencari rumput, sumber pakan untuk ternak warga.

"Pernah ada warga yang lihat lagi cari rumput di sekitar galian, itu bentuknya seperti batang pohon kelapa tapi kok ada seperti sisik gitu. Kalau ular yang paling besar melintas di sekitar permukiman sini itu paling besar berukuran tanaman bambu yang sudah tumbuh besar," katanya.

Opi mengungkapkan, kendati permukiman warga menjadi tempat perlintasan ular sanca, Opi dan warga lainnya tidak merasa terganggu atau terancam. Peristiwa yang terjadi selama tahunan itu membuat warga terbiasa bilamana ada ular yang menyasar ke rumah warga, bahkan tidak ada satupun serangan ular terhadap manusia.

"Paling biasanya hewan ternak, ayam dan bebek warga yang dimangsa. Terakhir itu satu ekor kambing dimangsa ular beberapa bulan lalu, warga mengira ada pencuri pas disambangi ke kandang kambing ternyata ular sanca besar banget lagi melilit kambing," ungkapnya.

Akibat peristiwa yang berulang itu, warga semakin waspada terhadap serangan ular sanca ke hewan ternak mereka. Saat ini masing-masing kandang ternak ayam dan bebek dipagari bambu dengan dilapisi kawat setinggi 30 sentimeter. 

Ketua RT 02/04 Kampung Cadas, Abdul Malik mengatakan, temuan ular sanca yang kerap melintasi permukiman masih terbilang banyak. Beberapa kali juga petugas Pemadam Kebakaran (Damkar) tiba di kampung itu untuk mengevakuasi ular, namun tidak ada satupun ular yang keluar.

"Perkiraan saya masih banyak ular tapi karna luasnya lahan bekas galian pasir yang sudah tertutup dengan eceng gondok serta masih banyaknya kebun bambu dan semak belukar, jadi kendala di lapangan dalam pencarian ular. Maka untuk langkah selanjutnya bila ada warga yang menemukan ular segera menghubungi pihak Damkar," ucap Abdul Malik.(IRW/AIR)



Tinggalkan Komentar